Sunday, 17 April 2016

Derawan : kepulauan yang tak sekadar menawan (part II)



Pulau Maratua
The most beautiful island I ever seen.
Keesokan harinya, kami mulai perjalanan islands hopping. Bersantai sejenak menikmati tiga warna laut sekaligus, biru turqoise, biru kehijauan dan biru gelap di Pulau Maratua. Waktu tempuh 15 menit untuk bisa mencapai pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Sulawesi dan berbatasan dengan negara Malaysia ini. Berbeda dengan Pulau Derawan yang kelihatan ramai, meskipun Pulau Maratua lebih luas terdiri dari 19 desa, namun letak desa yang saling terpisah jauh dan kesulitan transportasi membuat pulau ini bukan menjadi pilihan utama untuk penginapan. Namun, tersedia Maratua Paradise Ressort yang merupakan water villa yang bisa menjadi pilihan penginapan.
Maratua Resort
Pulau Maratua  mengakomodasi ressort yang incredibly wonderful. Kalau kamu search “derawan” di google, kebanyakan akan keluar foto birunya Pulau Maratua ini :)


Maratua Island
Pulau Kakaban
Jellyfish lake.

Bertolak dan melanjutkan island hopping, dengan jarak tempuh sekitar 30 menit kami tiba di Pulau Kakaban seluas 774,2 Hektare.
Tidak lengkap bila ke Kepulauan Derawan tanpa mengunjungi Pulau Kakaban yang terkenal dengan wisata biota terunik yang menjadi ikon di Kabupaten Berau, ubur-ubur tak menyengat!Membayangkan pengalaman eksklusif berenang bersama hewan lucu ini membuat kami semua lupa akan teriknya matahari ketika itu. Untuk bertemu dengan spesies langka ini, kami melewati rimbunan Hutan Mangrove. Vegetasi spesial wilayah tropis tertata rapi oleh pemerintah setempat dengan tangga terbuat dari kayu ulin yang terkenal sebagai ‘besi Kalimantan’, menuju Danau Kakaban.


Beberapa spesies ubur-ubur yang bisa ditemukan di danau air payau ini adalah Cassiopeia ornata, Mastigias papua, Aurelia aurita dan Tripedalia cystophora. Ribuan ubur-ubur mengelilingi kami dan rasanya sangat memukau, mengingat ubur-ubur adalah spesies yang bisa ‘nyetrum’. Ubur-ubur ini terperangkap selama ribuan tahun dalam Danau Kakaban sehingga mereka mulai beradaptasi dan menjadi ubur-ubur mutant kehilangan yang kemampuan sengat.
Sensasi yang saya rasakan saat menyentuh Mastigias Papua, ubur-ubur coklat bening adalah seperti menyentuh jelly-nya jelly, walaupun setelah beberapa lama kemudian kami merasa geli sendiri melihat ubur-ubur yang cenderung ramah terhadap manusia ini. Aurelia Aurita merupakan jenis ubur-ubur yang sangat kami hindari karena terlihat seram dalam artian sepertinya ubur-ubur yang berbentuk seperti plastik putih tipis dan sangat transparan itu mampu menempel di dalam pakaian kami, walaupun kenyataannya kami hanya parno.  

Pulau Sangalaki
Setelah mengisi amunisi kami di siang hari, motor cepat pun meluncur ke Pulau Sangalaki untuk snorkeling. Sekitar 3 km dari Pulau Sangalaki merupakan spot snorkeling dimana kami menjumpai keanekaragaman hayati. Sekumpulan terumbu karang, bintang laut, dan ikan warna warni yang saya tidak bisa sebut satu persatu spesiesnya menghiasi birunya laut terpantul sinar matahari. Ada pengalaman luar biasa saat snorkeling yakni bertemu dengan Pari Manta (Manta birostris). Menurut pengakuan Pak Jamir, kalau beruntung kami bisa melihat Pari Manta dan beruntungnya kami dari atas kapal sebelum turun untuk snorkeling dapat melihat spesies tersebut melesat lincah dengan eloknya menghibaskan sayap di kiri-kanan.

Ikan Manta

Kami pun terjun untuk melihat keberuntungan lebih, menyapa Pari Manta lebih dekat. Awalnya kami mengejar Pari Manta yang gesit ini kemanapun dia pergi dan tahu-tahu saja menghilang. Tiba-tiba Pari Manta ini berenang di bawah kami. Seketika jantung kami serasa berhenti, tercengang, melihat primadona laut dengan lebar lebih kurang 6 meter  sebesar dan sedekat itu.  Tidak perlu takut dengan pari jenis ini, Pari Manta bukanlah pari yang menyengat.

Gosong/Gusung

Selamat tinggal biota laut yang indah, saatnya kami kembali ke motor cepat dan bertolak ke tujuan berikutnya yaitu Gosong Panjang.  Gosong merupakan bentukan daratan kecil yang diselimuti pasir putih sepanjang mata memandang. 





Berayun-ayun kaki sejenak di  hamparan pasir putih membuat kami terenyuh betapa indahnya Indonesia. Kunjungan ke gosong pasir ini mengakhiri perjalanan panjang kami seharian penuh. Waktu setempat menunjukkan pukul  5 sore dan kami harus kembali ke Pulau Derawan yang berjarak tempuh 5 menit dari surga kecil ini.

Masih sekapur sirih
Keberadaan wisata alam Kabupaten Berau tidak terlepas dari peran pemerintah dan swasta. Wilayah dengan penduduk mayoritas dari Kutai, Banjar, Bugis, Jawa dan Bali ini, mulai berkembang menarik wisatawan dalam kurun waktu 10 tahun. Dilanjutkan dengan pembangunan Derawan Dive Ressort oleh pihak swasta yang semakin ikut menyemarakkan Kepulauan Derawan ke seluruh Indonesia bahkan manca negara. Menurut pengakuan Pak Jamir, sejak tahun 2010 beliau sudah melayani banyak tamu dan rombongan dengan komposisi 75% WNI dan 25% WNA (mayoritas dari Eropa). Bulan Februari-Mei merupakan bulan paling bagus untuk mengunjungi Kepulauan Derawan, namun dengan kondisi iklim saat ini tidak begitu bisa dipastikan angin kencang bisa terjadi kapan.

bermain kano bersama wong cilik setempat

Inilah Kepulauan Derawan yang tak sekedar menawan, juga mampu menghipnotis wisatawan dengan kekayaan aneka ragam hayati. Momen-momen menakjubkan seperti menyentuh ubur-ubur dan semakin dekat dengan biota laut yang jelita menjadi pengalaman luar biasa yang akan selalu bangga untuk diceritakan.

Senja di Pulau Derawan

Catatan Kecil
1.Terkait itinerary kami menyusun sendiri dan konsultasi dengan pak Jamir (085273226661). Pelayanan yang diberikan sangat prima.
2. Soal makanan, ikan menjadi pilihan utama. Ibu yang memasak (Ibu Jamir) untuk kami berasal dari Manado dan sambal yang dia buat sangat menggoyang lidah. Bagi pecinta kuliner, Kima (Tridacna maxima) rasanya sedap dan sangat kenyal. Namun, belakangan saya browsing tentang hewan yang hidup menempel pada terumbu karang ini termasuk kekayaan ekologis yang berperan penting dalam ekosistem. Untuk mengambil Kima, mereka harus mencungkil badan terumbu karang yang ditempeli oleh Kima. Kami tidak menyarankan anda untuk memakan Kima.
3. Sangat disarankan bagi yang ingin menginap di water villapesanlah jauh-jauh hari sebelumnya agar tidak keburu habis di-book orang lain.
4. Di sebelah timur Pulau Derawan, jika beruntung, anda bisa melihat penyu bertelur yang dimulai sejak senja hingga dini hari.  
5. Realisasi budget total per orang adalah Rp 4 juta rupiah sudah termasuk tiket pesawat PP Jakarta-Berau dan sharing cost untuk tujuh orang.

No comments:

Post a Comment