Tuesday, 19 September 2017

Baca ini sebelum bepergian ke luar negeri : Passport hilang saat travelling?

Kenapa anda harus membaca postingan ini sebelum bepergian?
karena ini adalah tindakan darurat, yang kalau udah kejadian, anda tidak akan sempat bahkan gak kepikiran untuk browsing2 lagi, biasanya sih karena panik.
Jadi, lebih baik baca sekarang 😇
Baru kali ini main ke KBRI. Ternyata melihat bendera Indonesia berkibar itu feels like home ya :)

Sebelum bepergian,
1. Fotokopi passport dan visa, lalu simpan di tas yang berbeda dengan passport asli dan berikan juga kpd teman perjalanan anda utk disimpankan.
2. Scan passport dan visa lalu kirim ke email sendiri dan org kepercayaan (orang tua atau teman dekat), baik yg ikut trip ataupun enggak.
3. Kartu kredit/debit dan uang dibagi ke semua anggota trip. Jadi kalau satu kehilangan, masih ada back up plan.

Bagaimana kalau passport hilang saat travelling ke luar negeri?

Berdasarkan pengalaman pribadi (huhu), saat saya dan kedua orang tua sedang Europe Trip. Wes, trip hemat, tour guide-nya anak sendiri haha.
Panjang cerita, saat itu kami udah di dalam kereta Thalys, stasiun Amsterdam Centraal hendak menuju Paris. Lima menit sebelum berangkat, kami sadar kalau tas bapak saya sudah tidak di tempat semula, tas itu berisi passport dan uang.
Panik! Nah itu yang terjadi! Saya dan kedua orang tua mulai panik, mencari-cari.
Wah kalau diingat lagi rasanya jantung saya gak karuan deh 😕
Tiga menit sebelum berangkat saya ajak kedua orang tua saya turun dari Thalys utk ke Kantor Polisi terdekat,
"Ayok turun, gak ada gunanya kita ke Paris tanpa passport"
Puji Tuhan, petugas Thalys yang saya datangin, dengan ramah dan tenang (mungkin karena dia ngeliat gue pucet ya) mengantarkan kami ke Kantor Polisi Amsterdam Centraal.
Sesampainya di kantor polisi, saya berusaha menenangkan diri dan orang tua. Sebagai anak, saya merasa bersalah, karena ketika kejadian, saya kesal "kenapa sihh tas nya gak dijaga dengan baik"
Jahat banget ya saya.. :'( Maafkeun...
Tapi, karena melihat org tua yang juga panik, akhirnya saya berusaha tenang dan bilang pasti ada jalan keluarnya. Saya cuma takut, kalau orang tua saya tiba2 sakit karena stress ya kan, malahan makin susaaah hahaha.
Sudah sudah, tidak ada yang perlu disalahkan. Saya bertanggung jawab akan orang tua saya, syukurlah kepada Telkoms*l yang senantiasa mengirimkan sms nomor KBRI setiap kali saya mendarat di suatu negara 😂
Saya langsung ke kantor polisi, telepon  KBRI di Belanda, bikin janji temu yang letaknya di Den Haag alias 1 jam lebih dari Amsterdam Centraal. Semua begitu cepat.
Segitu aja ya ceritanya.

4 Langkah Penting saat passport hilang di luar negeri.
1. Jangan panik terlalu lama.
Boleh panik, ya boleh namanya juga shock. Setelah itu langsung tenangkan diri, karena kepanikan tidak akan menyelesaikan masalah, malah entar jadi sakit 😟
2. Lapor ke kantor polisi
Segera pergi ke kantor polisi terdekat untuk membuat surat keterangan hilang. Syukurlah kantor polisi terdekat cuma jalan kaki doang, masih di dalam Stasiun Amsterdam Centraal.
Jelaskan pada petugas, persisnya kejadian seperti apa dan barang apa2 saja yang hilang, passport, ATM, kartu NPWP, KTP, uang sejumlah berapa banyak dll, secara detail.
Surat keterangan polisi dalam bahasa Belanda. Btw, setelah kembali ke Indonesia dan urus KTP yang hilang, petugas Dukcapil bingung karena Surat Keterangan Hilang-nya dalam bahasa Belanda hahaha.

3. Telepon KBRI
Syukurnya, setiap kali sampai di suatu negara baru, Telkoms*l mengirimkan SMS pemberitahuan, dengan bunyi,
"Pelanggan yang terhormat, selamat datang di Belanda. Apabila memerlukan bantuan, hotline KBRI Belanda  di +31651 xxxxx Tobias Asserlaan 8, 2517 KC Den Haag, Belanda"
Kira-kira seperti itu, saya tidak sempat men-screenshoot. Biasanya saya abaikan. Hal ini saja baru teringat ketika di kantor polisi, my head keep thinking WHAT SHOULD I DO KNOW?. Lalu saya membuka sms Telkoms*l kembali. Terima kasih. Dan syukurlah, saya menggunakan kartu pasca bayar, jadi bisa suka-suka hati nelpon tanpa takut habis pulsa. (bukan proomosi) 😝

Telepon dan menjelaskan pada KBRI, apa yang terjadi dan buat janji temu untuk membuatkan SPLP.
Puji Tuhan dan terima kasih sekali utk KBRI Belanda di Den Haag, kalau saya ingat semua kebaikan mereka, omg 😹 (akan kujelaskan di catatan kecil di bawah)
Syarat membuat SPLP hanyalah : passphoto 4x6 yang bisa langsung foto di photobooth stasiun.
Akhirnya, kami pun memesan tiket kereta ke KBRI di Belanda dan berbekal tanya sana sini sampailah di Den Haag, dengan perjalanan 1 jam lebih.
Untuk mempercepat proses, petugas KBRI menanyakan nama, TTL dan alamat di Indonesia.
Aku anaknya fakir wifi. Ketika dapat wifi yang ada di Amsterdam Centraal, cari rute lalu screenshoot.

4. Buat SPLP (Surat Perjalanan Laksana Passport)
Voila, setelah membayar biaya dokumen sebesar 5 euro dan menerima kwitansi, akhirnya bisa mendapatkan SPLP yang menjadi travel document, bukti identitas sementara yang harus dibawa. Travel document ini disarankan dipakai hanya untuk pulang ke Indonesia.
Halaman pertama SPLP

Halaman dalam SPLP. Catat nomor registrasi SPLP. Saya pun langsung foto SPLP dan kirim ke e-mail untuk mitigasi risiko.
Apakah SPLP bisa dipakai untuk melanjutkan perjalanan ke negara lain?
Tidak. SPLP  disarankan hanya dipakai untuk pulang balik ke Indonesia.
Karena itu, pemegang passport menuliskan pernyataan bahwa tidak akan menggunakan SPLP utk melanjutkan perjalanan di negara lain di Eropa. Apabila terjadi hal-hal akibat menggunakan SPLP untuk melanjutkan perjalanan di Eropa, maka pihak KBRI tidak bertanggung jawab, karena itu di luar kendali mereka.

Tapi, tapi, tapi, karena kami baru saja memulai perjalanan Europe Trip -Belanda adalah negara pertama- dan harus menemui saudara di Swiss, akhirnya dengan keberanian dan doa, berbekal SPLP, halaman depan Visa Schengen yang sudah saya copy terlebih dahulu, kami pun melanjutkan perjalanan. Saya tidak menganjurkan anda melakukan hal ini. Hanya karena kebaikan Tuhan, sehingga kami pun bisa tetap melanjutkan perjalanan dengan SPLP.

Catatan kecil tentang betapa luar biasanya pelayanan petugas Kementerian Luar Negeri (KBRI di Den Haag).
Hari kehilangan passport adalah hari Sabtu, tapi Pak Norman (pegawai KBRI) bersedia meluangkan waktu untuk datang ke kantor bantuin kita bikin SPLP.
Tidak hanya itu, karena mamake sedih banget dan kaget karena insiden ini, petugas KBRI nya dengan tenang  ngajak orang tua saya ngobrol santai dan lucu serta nawarin teh manis hangat. Akhirnya suasana cair, SPLP sudah selesai dan orang tua pun sudah tenang. Luar biasa lah pokoknya!!!
Isi kuisioner pelayanan langsung bintang lima.
Dan di hari itu, beruntungnya Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja, Duta Besar Indonesia di Belanda,  lagi ada di tempat karena ada acara di KBRI, jadinya kita foto bareng deh. Bapak dan Mamak juga senang, karena bisa bertemu Duta Besar.
Sudah bisa tersenyum kucel hahaha karena SPLP sudah jadi~
Tidak hanya sampai di situ, ternyata lagi ada acara di KBRI. Dan sedang ada keluarga batak lain, pegawai Kemenlu, yang berlibur ke Belanda lagi main ke kantor, ditambah lagi ternyata anak petugas imigrasi di KBRI nya adalah teman SMP aku, what a small world. Bisa kebayang kan ending-nya semua pada ngobrol hahahihi. Orang tua pun sudah sangat sangat sangat kembali ke fase kebahagiaan awal karena ngobrol dengan banyak orang Indonesia. <---- penting banget untuk ditulis.
Cheeseee~

Happy Travelling!
.
.
Saya bersyukur punya pengalaman seperti ini di tempat dan waktu yang tepat. Jadinya menambah kenalan dan pengalaman untuk ditulis di blog. Meskipun begitu, saya tidak mau ini terulang kembali 😂
.
.

Malam itu juga, saya langsung pesan bus tengah malam ke Paris dan pesan penginapan melalui Airbnb di Paris yang instant booking. Thanks to credit card dan smartphone. Semua jadi gampang. 😉

4 comments:

  1. mbak waktu itu berapa ya biaya urus SPLPnya? terimakasih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo..
      Saat itu (2017) biayanya €5..dan diberikan kuitansi oleh petugas..

      Delete
  2. Assalamu'alaikum...
    Setelah terbit SPLP dari KBRI, apakah kita harus ke Kemendagri Negara Belanda untuk menerbitkan Cek Out Memo?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo..
      Tidak.
      Saat itu (2017), setelah SPLP terbit,
      kami tidak ada diarahkan utk menerbitkan CO memo ke Kemendagri Belanda :)

      Delete