Monday, 25 September 2017

Edinburgh : kota klasik lahirnya Harry Potter

23:55 0 Comments

Terkenal sebagai kota seribu kastil dan masuk ke dalam United Nation World Heritage List, Edinburgh (dibaca : Edinbrah) berhasil merenggut hati saya dengan bentangan arsitektur kuno yang mereka miliki.
Bagaimana bisa kota dingin ini membuat saya rindu setengah mati dengannya?
Musim semi 2017, saya dan teman-teman jalan-jalan ke United Kingdom. 
Meskipun banyak kota yang kami kunjungi, kami sepakat bahwa ibu kota Scotland  adalah tujuan wisata yang paling bikin merindu.
I would defenitely like to be back to Edinburgh.😍

Basel-Edinburgh 
Saat itu saya sedang berada di Swiss, sementara teman-teman sudah sampai di Edinburgh duluan. Saya pun terbang dengan Easy Jet dari Basel Airport menuju Edinburgh Airport, lebih kurang 2 jam perjalanan, tibalah di Edinburgh Airport. Btw, harga tiket pesawat Basel-Edinburgh €74,46 (sekitar 1,116,000 rupiah). Dari Weinfelden (tempat tinggal) ke Basel, menghabiskan waktu lebih dari 2 jam perjalanan  dengan tiket seharga CHF 58.40 (sekitar 816.814 rupiah) *nangis darah*. Switzerland itu cantik namun menggigit kantong banget 😹 Tapi memang tidak ada direct flight dari Zurich ke Edinburgh, padahal kalau ada, saya cukup merogoh CHF 27 hanya untuk mencapai Zurich Airport.
Omg omg omg! I cant breath! Puji Tuhan ya sampai juga di United Kingdom. Hi Edinburgh :)

Castle Rock Hostel
Saya pun dengan semangat baru menuju Castle Rock Hostel, hostel ini terletak di balik Edinburgh Castle. Saya menaiki tram dan turun di West Prince Street lalu berjalan kaki jauh menaiki gunung sambil narik-narik koper. Tanpa paket data, saya hanya mengandalkan screenshoot gmaps yang dikirimkan teman saya dan bertanya pada salah seorang penduduk lokal. Mas Edinburgh-nya baik banget😂 Tidak hanya menunjukkan jalan, beliau juga mengantarkan saya jalan kaki hingga sampai persimpangan hostel, bahkan menawarkan untuk membawakan koper (saya tolak karena takut berutang sesuatu, kemudian menyesal tidak menerima tawaran itu karena ternyata jalannya terlalu jauh) 😂.  "Enjoy your stay here!". Scottish gave me a very good first impression.
Saya turun di West End Princes Street dan berjalan kaki (rute dot warna biru), kebayang kan jauh nya. Seharusnya turun di Princes Street dan mengikuti rute berwarna merah yang lebih pendek.
Saya sangat merekomendasikan hostel ini, karena selain harga murah (sekitar 200,000 rupiah/malam utk 16 female dorm), pelayanannya mantap, petugas ramah, kamar cozy, hostel dengan bangunan kastil kuno ini memiliki ruang makan besar yang lengkap dengan kopi, teh, susu atau coklat panas yang bisa dinikmati kapan saja secara gratis. Yasss, coklat panas 🙌
Terdapat juga ruang berkumpul yang terdapat piano, sofa, meja besar, nyaman untuk nongkrong. Cukup membayar £1.5, kita sarapan sepuasnya, dengan menu English breakfast sederhana. Roti dengan pilihan bermacam selai, pisang, apel, jus orange, dan sereal. Saya dan teman-teman sering nongkrong di ruang makan, sambil ketawa-ketawa, ngitung pengeluaran segala perutangan dan melihat-lihat orang yang juga tinggal di hostel tersebut berinteraksi.
Salah satu ruang nongkrong di Castle Rock Hostel, seriusan ini tempatnya nyaman dan hangat banget. Sumber : https://id.pinterest.com/pin/369154500677975207/?lp=true
Try this delicious hog roast makan siang di oinkhogroast terletak di Victoria Street, makanan tak halal.

Prince Street Gardens
Berbekal peta dan intuisi, kita berjalan kaki dibelai angin dingin Edinburgh menuju Princes Street Gardens yang memang dekat dengan hostel. Sama seperti di negara eropa lainnya, Edinburgh dapat ditempuh dengan berjalan kaki, lumayanlah, untuk menghangatkan badan.
Prince Street Gardens adalah taman yang dibuka untuk umum, terletak di balik Edinburgh Castle. Dari sini, kita bisa melihat kemegahan Kastil Edinburgh menjulang ke langit.
Edinburgh Castle view dari Prince Street Garden
Suasana di Prince Street garden saat musim semi. Pojok kiri atas : "The Origin of the Rock" menceritakan tentang asal muasal bebatuan yang menjadi fondasi Edinburgh Castle terbentuk dari erupsi volkano sekitar 340juta tahun silam. Pojok kanan atas: bangku taman sumbangan dari warga, biasanya terpatri, "In Loving Memory Of ......".
Di Edinburgh, terdapat juga taman privat yang tidak terbuka untuk umum, walaupun letaknya di tengah kota. Kami menemukan Queen Street Gardens, yang hanya dikhususkan bagi pemegang kunci, which is not us.
Pengumuman bagi para pemegang kunci Queen Street Garden.


New Town dan Old Town
Edinburgh memiliki keduanya, yaitu Old Town dan New Town.
Bahkan berfoto di pintu rumah saja, antik dan cantik.
Menelusuri Old Town membuat saya yakin kenapa kota ini dijuluki Kota Seribu Kastil. Kebayang gak sih, ratusan tahun yang silam, hamparan jalan yang sekarang dipenuhi mobil modern atau toko-toko suvenir di depan bangunan, dulunya dipenuhi lalu lalang penduduk yang menjajakan barang dagangannya persis seperti yang kita lihat di dongeng disney atau Diagon Alley-pasar fiksi Harry Potter. Pun Scotland menyumbang mitos seperti Loch Ness dan Unicorn. Kebayang juga gak sih, seperti yang ada di dongeng masa-masa kerajaan melibatkan pelaut hingga penyihir, bahwa semua bangunan kastil ini merupakan satu kesatuan arsitektur yang dihubungkan lorong bawah tanah? 
Old Town
Old Town adalah daerah dengan arsitektur bangunan kastil tua, dipenuhi dengan labirin dan lorong yang ditempuh dengan berjalan kaki.
New Town adalah daerah yang sudah lebih modern, berhiaskan bangunan bernuansa Georgia, dengan jalan yang lebih rapi. New Town merupakan lokasi rumah-rumah megah Edinburgh.
Segaris lurus, sungguh rapi New Town ini.
Calton Hill
Bukit menakjubkan yang buka selama 24 jam ini, bisa dikunjungi saat masih terang untuk melihat hamparan Kota Edinburgh dari atas bukit ataupun ketika hari sudah gelap sekitar pukul 10 malam saat musim semi. Kami juga mengunjungi Calton Hill untuk melihat lampu-lampu Kota Edinburgh seperti yang menghiasi kartu pos.
Edinburgh view from Calton Hill and the postcard.

Calton Hill terletak di ujung Princes Street, pegel juga sih jalan ke sana. Apalagi saat malam hari, dingin nya suhu sekitar 5-10℃, anginnya berhembus, aaakk tidakk, dingin banget hanya untuk bela-belain naik ke Calton Hill. Perlindungan jaket, sarung tangan, syal, tapi tetap aja kekuatan angin berhembus, wajah langsung beku. Dasar orang Tropis😢. Sementara itu, kami memperhatikan beberapa Scottish yang habis pulang dinner atau hangout, cuma pake dress atau baju saja tanpa jaket, oh my lord, apakah kulit mereka kulit badak????

Nikmatilah pemandangan kota Edinburgh  yang juga dijuluki Athena di Utara ini, karena  terdapat beberapa bangunan menarik yang menyerupai arsitektur kuil Athena seperti Dugald Stewart Monument dan Nelson Museum, serta bisa pula memanjakan mata dengan biru North Sea dari Calton Hill.
Baris 1. dari kiri ke kanan : Dugald Stewart Monument (sebagai kenangan akan filsuf Scottish bernama Dugald Stewart, monumen ini dibangun mirip dengan arsitektur kuil di Athena) & Obsevatory House dan National Monument (dibangun tahun 1823, tapi kekurangan dana dan diabaikan pada tahun 1826. Monumen ini juga menyerupai kuil di Athena)
Baris 2. dari kiri ke kanan : Nelson Museum dan the Palace of Holyroodhouse
Edinburgh Castle
Mengunjungi Edinburgh Castle adalah sebuah keharusan!
Kastil megah yang terletak di tengah Kota Edinburgh, dekat dengan Castle Rock Hostel, merupakan destinasi wajib dikunjungi wisatawan. Di gerbang depan, kami menyaksikan dua penjaga kastil yaitu pria tinggi besar memakai rok tartan dalam ritual changing guard. 

Penjaga gerbang kastil Edinburgh
Setelah antri dan membeli  tiket £17.00 (sekitar 300,000 rupiah), kita pun berkelana di Kastil Edinburgh. Tiket masuk bisa juga dibeli di https://www.edinburghcastle.gov.uk.
Tiket Masuk Edinburgh Castle
Tapi sayang sekali, di hari itu, hujan turun dengan derasnya, kami tidak bisa terlalu lama berkelana di luar kastil. Para pengunjung pun masuk ke dalam kastil yang diperbolehkan, dan memanjakan mata dengan sejarah Kerajaan Edinburgh sejak pertama kali berdiri, diperebutkan dan direbut kembali antara Scottish-British, kehancuran kastil hingga dibangun kembali, kastil yang bertahan saat perang dunia, lalu Edinburgh Castle juga pernah menjadi penjara bagi ratusan tahanan militan, hingga kini kastil gagah ini menjadi tempat wisata paling populer di Scotland.


Kastil memang selalu terkenal akan sejarah gelap dan atmosfer mistisnya, ditambah lagi Edinburgh yang terkenal akan kota hantu. Demikian pula Edinburgh Castle yang tersohor akan berbagai kisah misteri atas ribuan pembunuhan yang pernah terjadi di dalam  istana sekaligus benteng pertahanan Edinburgh ini. Tapi tidak perlu khawatir, saya sendiri tidak mengalami kisah-kisah menyeramkan atau penampakan kok ketika di Edinburgh Castle.
Untuk anda pecinta  kisah hantu dan memancing adrenalin, Kota Edinburgh adalah pilihan yang tepat. Terutama, kunjungilah Mary Kings Close, salah satu tempat tersembunyi di Old Town yang dulu pernah digunakan untuk 'menampung' orang-orang yang terkena wabah Black Death dan dibiarkan hingga mati di situ.

Harry Potter Tour
Pecinta Harry Potter?? 
Pasti sudah tahu dong bahwa Edinburgh adalah kota lahir penyihir fiksi yang termasyur ini. Anda bisa mengikuti tour Harry Potter atau seperti yang kami lakukan, Free Tour Harry Potter (well, anda bisa memberikan tip di akhir tour). Berkumpullah di Greyfriars Bobby Memorial Statue setiap pukul 3 sore, sebuah monumen anjing bernama Bobby yang dinobatkan sebagai anjing yang setia. 
The Elephant House Cafe. Tempat J.K. Rowling menghabiskan waktu menulis Harry Potter. ((Simpedes BRI melayani hingga Edinburgh😁))
Tour ini seru banget!! Tour guide kami, Richard, sangat  antuasias, penjelasannya pun panjang, humoris dan mengajak kami berinteraksi dengan menggunakan beberapa mantra  Harry Potter that could stop the traffic to cross the street, padahal karena lampunya memang sudah hijau.😄
Dia juga kadang mengajukan pertanyaan, jadi bagi siapa yg bisa menjawab, boleh angkat tangan dan bila benar, asramanya akan mendapat poin. Guess what? Semua orang yang menjawab berasal dari Slytherin. haha.
Kerumunan pecinta free Harry Potter Tour
Kekurangan dari tour gratis ini adalah penjelasan Richard dengan akses Scottish tidak terdengar dengan jelas oleh telinga saya yang tidak bagus menangkap listening section. Ditambah lagi, orang yang ikut tour ini sangat banyak dan memiliki badan tinggi menjulang. 😭
kiri : Greyfriars bobby Memorial Statue. Kanan : our attractive tour guide, Sir Richard, lengkap dengan jubah dan magic wand, Sir Richard menjelaskan mengajak kami keliling ke beberapa lokasi yang menjadi inspirasi J.K. Rowling dan memberi penjelasan.
  
Dari kiri atas searah jarum jam : Sir Richard memberi bekal magic wand biar tournya tambah seru; Nisan William McGonagall, yang menjadi inspirasi nama Prof. McGonagal, wakasek Hogwarts; Nisan Thomas Riddle yang menjadi inspirasi nama asli Voldemort, Tom Riddle; Victoria Street yang menjadi inspirasi Diagon Alley.

The Fetes College
Sekolah swasta ini menjadi inspirasi bangunan sekolah Harry Potter. Super luas!! Saya sangat penasaran dalamnya seperti apa. Sayangnya, sekolah dengan gerbang setinggi 2 meter ini, tidak dibuka untuk umum 😞 Meskipun, kami cukup beruntung ada 4 remaja yang sedang bermain di halaman sekolah dan menyapa kami.
Penasaran! Penasaran! Semoga kelak ada kesempatan untuk tour ke Fetes College.
what a huge college!
Writers Museum
Writer's Museum tersembunyi di balik sebuah gedung lain di depannya, kami harus melewati lorong berukuran setengah meter, kemudian disuguhkan Writer's Museum (free entry). Museum ini didirikan sebagai apresiasi tiga penulis luar biasa dari Scotland yaitu  Robert Burns, Sir Walter Scott and Robert Louis Stevenson.
Writer's museum
Rute perjalanan kami selama di Edinburgh dalam peta. Tidak ada travel pass atau tiket harian yang kami beli, karena semua ditempuh dengan kaki.

Jadi, sudah tahu kan mengapa Edinburgh mampu menaklukkan hati saya?
Jeratan arsitektur klasik yang memikat dipadukan cuaca dingin yang dihangatkan oleh coklat panas Castle Rock Hostel 😍😍😍

Catatan Kecil.
1. Bawa jaket tebal, topi kupluk, sarung tangan, syal, karena Edinburgh beneran dingin dan anginnya kencang. Pokoknya dingin.
2. Kalau sudah lelah banget berjalan kaki, anda bisa menggunakan uber.
3. Thai Orchid!! Restoran terbaik di Edinburgh! Restoran yang terletak beberapa langkah dari Castle Rock, menjadi tempat makan favorit kami. Setiap makan siang/malam, makannya di Thai Orchid. Cita rasa Asia, enak banget serius, dan harga bersahabat. Lebih hemat lagi kalau take away terus makan di ruang makan hostel. Waiting List nya panjang, jadi bisa juga di-take away.
4. Oleh-oleh khas Edinburgh adalah scarf atau olahan kain, yang terbuat bervariasi, ada yang cashmere (mulai harga £40), lambswool (mulai £8 per piece hingga £19) atau campuran keduanya. Jangan lupa untuk membeli motif tartan ya, khas Edinburgh. Satu lagi yang khas adalah bagpipes-nya.
5. Scotland terkenal akan whiskynya. Bagi pecinta whisky, Anda bisa mengunjungi The Scotch Whisky Experience untuk merasakan sensasi minumaan hasil penyulingan ini.
6. Sebelum berkunjung ke UK, kan perlu visa tuh. Cek di sini ya untuk Tips apply Visa UK😇
Terima kasih sobat2 Edinbrahhh aku😘 for your company and laugh.
Baca juga perjalanan berikutnya di London.

Tuesday, 19 September 2017

Baca ini sebelum bepergian ke luar negeri : Passport hilang saat travelling?

21:57 6 Comments
Kenapa anda harus membaca postingan ini sebelum bepergian?
karena ini adalah tindakan darurat, yang kalau udah kejadian, anda tidak akan sempat bahkan gak kepikiran untuk browsing2 lagi, biasanya sih karena panik.
Jadi, lebih baik baca sekarang 😇
Baru kali ini main ke KBRI. Ternyata melihat bendera Indonesia berkibar itu feels like home ya :)

Sebelum bepergian,
1. Fotokopi passport dan visa, lalu simpan di tas yang berbeda dengan passport asli dan berikan juga kpd teman perjalanan anda utk disimpankan.
2. Scan passport dan visa lalu kirim ke email sendiri dan org kepercayaan (orang tua atau teman dekat), baik yg ikut trip ataupun enggak.
3. Kartu kredit/debit dan uang dibagi ke semua anggota trip. Jadi kalau satu kehilangan, masih ada back up plan.

Bagaimana kalau passport hilang saat travelling ke luar negeri?

Berdasarkan pengalaman pribadi (huhu), saat saya dan kedua orang tua sedang Europe Trip. Wes, trip hemat, tour guide-nya anak sendiri haha.
Panjang cerita, saat itu kami udah di dalam kereta Thalys, stasiun Amsterdam Centraal hendak menuju Paris. Lima menit sebelum berangkat, kami sadar kalau tas bapak saya sudah tidak di tempat semula, tas itu berisi passport dan uang.
Panik! Nah itu yang terjadi! Saya dan kedua orang tua mulai panik, mencari-cari.
Wah kalau diingat lagi rasanya jantung saya gak karuan deh 😕
Tiga menit sebelum berangkat saya ajak kedua orang tua saya turun dari Thalys utk ke Kantor Polisi terdekat,
"Ayok turun, gak ada gunanya kita ke Paris tanpa passport"
Puji Tuhan, petugas Thalys yang saya datangin, dengan ramah dan tenang (mungkin karena dia ngeliat gue pucet ya) mengantarkan kami ke Kantor Polisi Amsterdam Centraal.
Sesampainya di kantor polisi, saya berusaha menenangkan diri dan orang tua. Sebagai anak, saya merasa bersalah, karena ketika kejadian, saya kesal "kenapa sihh tas nya gak dijaga dengan baik"
Jahat banget ya saya.. :'( Maafkeun...
Tapi, karena melihat org tua yang juga panik, akhirnya saya berusaha tenang dan bilang pasti ada jalan keluarnya. Saya cuma takut, kalau orang tua saya tiba2 sakit karena stress ya kan, malahan makin susaaah hahaha.
Sudah sudah, tidak ada yang perlu disalahkan. Saya bertanggung jawab akan orang tua saya, syukurlah kepada Telkoms*l yang senantiasa mengirimkan sms nomor KBRI setiap kali saya mendarat di suatu negara 😂
Saya langsung ke kantor polisi, telepon  KBRI di Belanda, bikin janji temu yang letaknya di Den Haag alias 1 jam lebih dari Amsterdam Centraal. Semua begitu cepat.
Segitu aja ya ceritanya.

4 Langkah Penting saat passport hilang di luar negeri.
1. Jangan panik terlalu lama.
Boleh panik, ya boleh namanya juga shock. Setelah itu langsung tenangkan diri, karena kepanikan tidak akan menyelesaikan masalah, malah entar jadi sakit 😟
2. Lapor ke kantor polisi
Segera pergi ke kantor polisi terdekat untuk membuat surat keterangan hilang. Syukurlah kantor polisi terdekat cuma jalan kaki doang, masih di dalam Stasiun Amsterdam Centraal.
Jelaskan pada petugas, persisnya kejadian seperti apa dan barang apa2 saja yang hilang, passport, ATM, kartu NPWP, KTP, uang sejumlah berapa banyak dll, secara detail.
Surat keterangan polisi dalam bahasa Belanda. Btw, setelah kembali ke Indonesia dan urus KTP yang hilang, petugas Dukcapil bingung karena Surat Keterangan Hilang-nya dalam bahasa Belanda hahaha.

3. Telepon KBRI
Syukurnya, setiap kali sampai di suatu negara baru, Telkoms*l mengirimkan SMS pemberitahuan, dengan bunyi,
"Pelanggan yang terhormat, selamat datang di Belanda. Apabila memerlukan bantuan, hotline KBRI Belanda  di +31651 xxxxx Tobias Asserlaan 8, 2517 KC Den Haag, Belanda"
Kira-kira seperti itu, saya tidak sempat men-screenshoot. Biasanya saya abaikan. Hal ini saja baru teringat ketika di kantor polisi, my head keep thinking WHAT SHOULD I DO KNOW?. Lalu saya membuka sms Telkoms*l kembali. Terima kasih. Dan syukurlah, saya menggunakan kartu pasca bayar, jadi bisa suka-suka hati nelpon tanpa takut habis pulsa. (bukan proomosi) 😝

Telepon dan menjelaskan pada KBRI, apa yang terjadi dan buat janji temu untuk membuatkan SPLP.
Puji Tuhan dan terima kasih sekali utk KBRI Belanda di Den Haag, kalau saya ingat semua kebaikan mereka, omg 😹 (akan kujelaskan di catatan kecil di bawah)
Syarat membuat SPLP hanyalah : passphoto 4x6 yang bisa langsung foto di photobooth stasiun.
Akhirnya, kami pun memesan tiket kereta ke KBRI di Belanda dan berbekal tanya sana sini sampailah di Den Haag, dengan perjalanan 1 jam lebih.
Untuk mempercepat proses, petugas KBRI menanyakan nama, TTL dan alamat di Indonesia.
Aku anaknya fakir wifi. Ketika dapat wifi yang ada di Amsterdam Centraal, cari rute lalu screenshoot.

4. Buat SPLP (Surat Perjalanan Laksana Passport)
Voila, setelah membayar biaya dokumen sebesar 5 euro dan menerima kwitansi, akhirnya bisa mendapatkan SPLP yang menjadi travel document, bukti identitas sementara yang harus dibawa. Travel document ini disarankan dipakai hanya untuk pulang ke Indonesia.
Halaman pertama SPLP

Halaman dalam SPLP. Catat nomor registrasi SPLP. Saya pun langsung foto SPLP dan kirim ke e-mail untuk mitigasi risiko.
Apakah SPLP bisa dipakai untuk melanjutkan perjalanan ke negara lain?
Tidak. SPLP  disarankan hanya dipakai untuk pulang balik ke Indonesia.
Karena itu, pemegang passport menuliskan pernyataan bahwa tidak akan menggunakan SPLP utk melanjutkan perjalanan di negara lain di Eropa. Apabila terjadi hal-hal akibat menggunakan SPLP untuk melanjutkan perjalanan di Eropa, maka pihak KBRI tidak bertanggung jawab, karena itu di luar kendali mereka.

Catatan kecil tentang betapa luar biasanya pelayanan petugas Kementerian Luar Negeri (KBRI di Den Haag).
Hari kehilangan passport adalah hari Sabtu, tapi Pak Norman (pegawai KBRI) bersedia meluangkan waktu untuk datang ke kantor bantuin kita bikin SPLP.
Tidak hanya itu, karena mamake sedih banget dan kaget karena insiden ini, petugas KBRI nya dengan tenang  ngajak orang tua saya ngobrol santai dan lucu serta nawarin teh manis hangat. Akhirnya suasana cair, SPLP sudah selesai dan orang tua pun sudah tenang. Luar biasa lah pokoknya!!!
Isi kuisioner pelayanan langsung bintang lima.
Dan di hari itu, beruntungnya Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja, Duta Besar Indonesia di Belanda,  lagi ada di tempat karena ada acara di KBRI, jadinya kita foto bareng deh. Bapak dan Mamak juga senang, karena bisa bertemu Duta Besar.
Sudah bisa tersenyum kucel hahaha karena SPLP sudah jadi~
Tidak hanya sampai di situ, ternyata lagi ada acara di KBRI. Dan sedang ada keluarga batak lain, pegawai Kemenlu, yang berlibur ke Belanda lagi main ke kantor, ditambah lagi ternyata anak petugas imigrasi di KBRI nya adalah teman SMP aku, what a small world. Bisa kebayang kan ending-nya semua pada ngobrol hahahihi. Orang tua pun sudah sangat sangat sangat kembali ke fase kebahagiaan awal karena ngobrol dengan banyak orang Indonesia. <---- penting banget untuk ditulis.
Cheeseee~

Happy Travelling!
.
.
Saya bersyukur punya pengalaman seperti ini di tempat dan waktu yang tepat. Jadinya menambah kenalan dan pengalaman untuk ditulis di blog. Meskipun begitu, saya tidak mau ini terulang kembali 😂

Tuesday, 11 July 2017

Jungfraujoch - Ciao from the top of Europe!

15:39 14 Comments



Menyenangkan itu adalah ketika bisa mencicipi salju abadi di puncak gunung tanpa harus lelah mendaki. anaknya pemalas
Tahun lalu, ketika saya melakukan perjalanan ke Switz dan menyentuh salju di pegunungan Alpen, saya hanya sampai di First Station (2168 m) dgn menaiki gondola. Bisa dibaca di sini 👉  jalan-jalan-di-swiss-danau-hingga-pegunungan 

Tapi perjalanan 2017, saya bisa mencapai ketinggian 3454 m tanpa mendaki,  cuma bermodal transportasi kereta saja! Wow! Kita patut berdecak kagum akan intelenjensi orang Caucasian 🙌. 
Sejak 1896-1912 dengan biaya CHF 16juta (dua kali lipat dari perkiraan), mereka bahkan sudah berhasil membelah pegunungan Alpen dan membuat jalur kereta hingga di ketinggian 11,333 kaki. 

Tahun ini karena saya pergi bersama orang tua, mereka bilang, "Nanggung sih kalau sekali-sekali ke Swiss tapi gak sampai ke Jungfrau😉. Kayaknya bakal cuma sekali ini aja sampai ke Swiss. Soalnya mahaaaal banget." hahaha


TRANSPORTASI

Berbekal Swiss Travel Pass dan mengecek jadwal kereta ke Jungfraujoch hari sebelumnya di www.sbb.ch. Semua jadwal kereta yang saya butuhkan selalu saya screencapture supaya lebih cepat saat ingin melihat jadwal dan platform berapa.

sumber. www.sbb.ch. 

Keesokan paginya, kamipun bangun pagi untuk naik kereta 07.58 AM dari Weinfelden (tempat tinggal) ke Bern  yang ditempuh selama 2 jam. Transit lalu naik kereta ke Interlaken Ost, transit di Lauterbrunnen, ganti kereta lagi di Kleinen Scheigen hingga sampai di Jungraujoch pukul 13.35. 




Total ada 5 kereta selama 5,5 jam, kereta yang datang pun cepat. Setiap sampai di satu stasiun, selalu ada kereta  berikutnya yang telah menunggu, kami tidak perlu menunggu lama. Turun dari kereta, langsung turun dengan eskalator menuju gleis (platform) berikutnya langsung hop naik lagi ke kereta selanjutnya yang sudah tersedia. Begitu seterusnya.

Orang tua saya pun saya sudah wanti-wanti untuk berjalan cepat. Sebelum melakukan plesir ke Eropa, saya sudah sarankan org tua untuk sering lari pagi supaya badannya 'gak kaget' pas di Eropa. Kemana-maana jalan kaki dan pakai public transportation.Tau sendiri kan, kalau di Indonesia itu apa2 enak, mau kemana2 tinggal pakai mobil atau motor sendiri. Syukurlah, 5 bulan sebelum berangkat mereka lari pagi tiap hari berdua 😃 


Penampakan kereta lawas (kacanya bisa dibuka) untuk menikmati pemandangan
Kereta yang digunakan hingga Stasiun Interlaken Ost adalah kereta listrik modern yang biasa.
Nah, setelah Interlaken Ost, kita pun memasuki Jungfrau Region. Kereta diganti menjadi kereta lokal berwarna kuning-kehijau-hijauan bernama Berner Oberland Bahn (BOB). Jendela kereta ini bisa dibuka (dan saya sarankan untuk dibuka) karena memang diperuntukkan untuk menikmati udara dan pemandangan Alpen.


Jalanan pun mulai menanjak ke Lauterbrunnen, saya memperhatikan rel mereka berbeda, seperti ada gerigi di tengah rel yang membantu kereta untuk jalan tanjakan dan menahan kereta ketika turunan supaya gak kepleset atau semacamnyalah. Gerigi ini mirip dengan gerigi pada kereta arung jeram atau roller coster di dufan.


Look at that 💗Pemandangan sepanjang jalan di kereta

Beli tiket Jungfrau

Ketika kami menaiki kereta Lauterbrunnen-Kleinen Scheigen, pemeriksa karcis datang dan saya menunjukkan Travel Pass. Setelah memasuki wilayah Jungfrau, Swiss Travel Pass tidak berlaku, kami harus membeli tiket lain untuk sampai ke Jungfrau (saya pikir beli tiket barunya ketika sampai di Jungfrau), sehingga kami pun harus turun di Stasiun Wengen untuk membeli tiket Jungfrau. Ternyata ada beberapa wisatawan lain yang juga turun untuk membeli tiket seperti kami.


Suasana dan pemandangan di Stasiun Wengen, tempat kami membeli tiket Jungfrau.

Tiket seat reservation Jungfrau dapat dibeli di stasiun Leauterbrunnen atau Wengen, seharga CHF 196 (sekitar 2,7 juta rupiah) per orang, sudah half price karena kami punya Swiss Travel Pass. (berarti kalau tanpa diskon Travel Pass, sekitar CHF 392 per orang).
Dalam satu amplop, satu orang mendapat 3 lembar tiket. 
Rincian tiket yang kami terima adalah :

  • 1 tiket return Wengen via Kleine Scheidegg seharga CHF 88
  • 1 tiket Kl. Scheidegg-Jungfraujoch seharga CHF 5, lengkap dengan barcode dan boarding time.
  • 1 tiket Jungfraujoch-Kl. Scheidegg seharga CHF 5, lengkap dengan barcode dan boarding time

Pada saat membeli tiket seat reservation, (sudah diterjemahkan sesuai pengertian saya)
Ticket officer : Mau berangkat jam berapa dan pulang jam berapa? Anda hanya boleh menaiki kereta sesuai dengan jam yang Anda pilih. *sambil nunjukin kertas berisikan jadwal yang tersedia*  Biasanya pengunjung menghabiskan waktu 2 jam untuk tur di Jungfrau.
Saya : Dari Wengen naik kereta berikutnya 12.24 sampai di Jungfrau 13.35. Dari Jungfrau kami memilih keberangkatan 16.43 supaya tidak terburu-buru.

Penampakan tempat boarding untuk Tiket dengan seat reservation
Apa bedanya seat reservation dengan non reservation?
Well, ketika kami boarding untuk kereta Jungfrau-Kleinen Scheidegg, kami (para empunya seat reservation) didahulukan untuk masuk dan mengambil tempat duduk di dalam kereta, terserah dimana saja yang penting duduk 😊
Setelah itu, penumpang dengan tiket non reservation diperbolehkan masuk dan berdiri di dalam kereta.






Selain tiket, kami juga diberikan Jungfrau Railways Passport, isilah nama dan nama belakang untuk distempel ketika sampai di Jungfrau, sebagai kenang-kenangan atau sertifikat bahwa kami sudah pernah ke Top Of Europe. 

Boarding di Kleinen Scheidegg


Di Kleinen Scheidegg, kami pun boarding sesuai dengan tiket seat reservation individual berwarna hijau dan men-scan barcode tiket pada tools yang disediakan. Jangan khawatir, banyak petugas yang bersedia membantu. Yang penting itu sabar dan tidak desak-desakan. Jadilah turis yang baik dan sabar. Soalnya setiap ke Eropa, saya tuh sering memperhatikan turis dari salah satu negara di Asia Selatan dengan penduduk paling padat suka dorong-dorongan, gak sabaran dan gak mau antri. huuft.

Boarding di Kleinen Scheidegg dengan scan barcode terlebih dahulu. Ini penampakan kereta yang tadi kami gunakan dari Wengen.

Kereta yang digunakan dari Kl. Scheigen berbeda dengan kereta sebelumnya. Kereta bernama Jungfraubahn ini berwarna merah, (mungkin) dirancang khusus untuk menelusuri terowongan dalam gunung, dan kaca tidak untuk dibuka.

JUNGFRAUBAHN - kereta yang digunakan untuk menelusuri terowongan di gunung dengan cara mendaki.
Suasana di dalam kereta, terdapat papan informasi yang harus diperhatikan.

Kleinen Scheidegg-Jungfraujoch.

Sepanjang 9,3 km, kami menaiki kereta membelah gunung menuju Jungfraujoch. Urutan stasiunnya adalah Kl. Scheidegg - Eigergletscher - Eismeer - Jungfraujoch. Tekanan udara yang rendah dan melewati terowongan membuat telinga sakit dan kalau tidak tahan bisa membuat mimisan. haha. Saya sih enggak mimisan, cuma  berdarah aja di dalam hidung 😐 Seperti ini lah pemandangan dari kereta Kl. Scheidegg-Jungfrau, sebelum memasuki terowongan yang gelap.




TOUR

Mendarat di stasiun Jungfraujoch, kita disambut oleh toko souvenir, tempat untuk stempel Jungfrau passport, resto, tempat mengirimkan postcard, charging station, hingga ATM. Di dalam gedung ini, masih ada pemanas ruangan, sehingga kita tidak akan merasa bahwa sekarang sedang berada di pegunungan Alpen. Untuk memulai tour, kita tinggal mengikuti anak panah tulisan TOUR. 



Siapkan jaket tebal, sarung tangan, syal, ataupun penutup telinga anda dan selamat datang di Jungfrau tour yang menggigil. 


Jungfrau Panorama 

Bagian pertama yang ditawarkan tour Jungfrau adalah pemandangan Pegunungan Alpen, Jungfrau region dalam animasi 360 derajat!! Dalam satu ruangan gelap, di sini kita berdiri dan bisa melihat liuk-liuk wilayah Jungfrau dalam bentuk 4D disertai suara pegunungan berbisik. Animasi ini merupakan sinematik yang memenuhi seluruh dinding ruangan sehingga terlihat sangat nyata. Takjub, sudah pasti! 

Ruangan Jungfrau 360 derajat

Alpine Sensation. 

Rasakan nuansa pegunungan alpen, dalam satu bola kristal bertuliskan Little Dream of Switzerland.


Pintu masuk Alpen Sensation

Bola Kristal ukuran raksasa yang menampilkan negeri impian Switzerland. Benar-benar seperti di negeri dongeng.

Time travel

Tak ketinggalan sepanjang jalan tour, ada sejarah perancangan dan pembangunan Jungfraujoch, alat-alat yang digunakan saat pembangunan secara manual, sketsa perencanaan, dan lain-lain. Terdapat juga patung Adolf Guyer-Zeller yang merancang sketsa jalur kereta ini pada tahun 1893. Semua dapat Anda baca di Jungfrau Passport yang diberikan.

Jungfrau pertama kali didaki tahun 1811

Yang bisa aku katakan hanyalah, luar biasa, ini manusia-manusia Eropa tahun di abad 19-an, disaat nenek buyut aku masih dijajah (ya dijajah Eropa), mereka bisa aja udah berpikir untuk merancang jalan dan transportasi untuk  membelah gunung dengan alat-alat manual, tapi mereka sudah mengenal alat peledak. 
Selalu ada korban pada setiap konstruksi. Pada 26 Februari 1899, sebuah insiden ledakan terjadi dan merenggut nyawa 6 buruh yang kemudian dicatat pada "A Tribute to Tunnel Worker" di dinding. 
Suasana gelap di dalam tour Jungfrau alias di dalam gunung.

Ice Palace

Dari semua bagian tour, Ice Palace  adalah yang paling dingin. Kalau memang gak sanggup lagi dengan dinginnya istana es ini, Anda bisa memilih jalur exit dengan melambaikan tangan ke kamera. 😜 
Selain paling dingin, istana es yang dibangun pada tahun 1930-an ini, juga sangat licin. Karena licin, berhati-hatilah saat berjalan di Ice Palace. Disarankan untuk menggenggam hand drail yang disediakan.

Bisa kebayangkan dinginnya istana es ini?
Ada beberapa pahatan es, seperti keluarga beruang dan pinguin.


Lelah, kedinginan dan bisa mengakibatkan telinga sakit. Beginilah perasaan saat Jungfrau tour. Setelah dari Ice Palace, kami pun duduk dan istirahat sebentar di satu ruang rest area sebelum lanjut ke tempat berikutnya. Rest area ini hangat dan dekat dengan jendela yang ada mataharinya, bahagianya kalau kena matahari 💥


Glacier Plateau, 3454 m.

Yay! Ciao from the top of Europe 😆😆😆😆

Plateau adalah bagian terakhir dari Jungfrau Tour. Tempat ini merupakan dataran paling tinggi yang bisa dikunjungi pengunjung berupa hamparan gunung yang ditutupi salju abadi. Dari Jungfraujoch, kita dapat melihat puncak tertinggi di Eropa-Jungfrau (4158 m). Puncak gunung yang berselimutkan salju.


Tak dapat dipungkiri, yang asli jauh lebih indah dibanding foto
Wisatawan dapat mengambil banyak foto indah dan tak jarang saya melihat banyak wajah yang benar-benar takjub akan keindahan Pegunungan Alpen ini. Puji Tuhan!
Kami pun memegang salju yang membeku lalu cair di tangan. Ini adalah salju sungguhan yang melingkupi Alpen. Dan ya.. ini adalah puncak-puncak gunung salju ter-elok yang pernah memanjakan mata saya.


Ada dua bendera Swiss yang bisa menjadi spot foto. Bendera ini ditancapkan pada tahun 1912 sebagai tanda pembukaan Jungfrau Railway.
Cuaca cerah dan matahari bersinar terik di musim semi membuat kami merasa beruntung dan bersyukur. Puncak gunung dan langit yang biru terlihat sangat bagus, layaknya lukisan. Pengunjung pun ramai di plateau ini.


My lovely mom 💓

Plateau pun menjadi bagian akhir dari tour hari ini. Setelah selesai berfoto dan menikmati kehangatan matahari, kami pun kembali ke dalam gedung untuk makan siang di restaurant sambil memandang hamparan salju. 

Porsi makanan yang disajikan di resto ini cukup besar, saya memesan dua porsi untuk tiga orang aja sudah kenyang sekali. Harganya juga cukup terjangkau memang standard Switz, untuk satu porsi nasi kari ayam sekitar CHF 25 ada juga pork dan french fries CHF 21.

Sekitar pukul 16.30 kami berjalan menuju Stasiun Jungfraujoch untuk mengantri boarding kereta 16.43 yang telah kami pesan.


Kesan : Sama sekali tidak menyesal dengan harga segitu mahal dan bikin aku makan kerupuk selama sebulan untuk Jungfrau tour, sangatlah setimpal. Pengalaman yang saya dapatkan sungguh tidak terukur pesonanya, tidak hanya alam tapi juga kekaguman akan konstruksi pembangunan sejak dulu dan pemeliharaan hingga sekarang. 

Jangan pernah ragu untuk bermimpi dan mewujudkan mimpi itu! Ayah saya saja, setelah umur 60 tahun baru kesampaian plesir ke Pegunungan Alpen. (Selama ini penghasilannya fokus untuk menyekolahkan anak-anak, katanya 😂). Yang penting itu tekad yang kuat dan menabung demi sesuatu yang kita inginkan. 😊
You dont have to be rich to go travel :) God bless you!

 Catatan Kecil :

  1. > Sangat disarankan untuk membawa jaket tebal, sarung tangan, penutup telinga dan syal terutama untuk orang tua. Ice palace itu dinginnya bikin menggigil. Dan jangan memakai sepatu yang solnya licin.
  2. > Dengan Swiss Travel Pass, anda bisa menghemat 50% biaya untuk membeli tiket Jungfrau. Dengan CHF 196 (sekitar 2,7 juta rupiah) per orang, namun kalau tanpa diskon Travel Pass, sekitar CHF 392 per orang.
  3. > Jangan khawatir, sistem transportasi di Swiss sangat bagus dan officer sangat ramah serta siap membantu perjalanan anda. Selalu cek www.sbb.ch untuk jadwal transportasi di Swiss, realtime dan dilengkapi dengan nomor gleis (platform).
  4. > Selain yang saya sebutkan, ada juga Sphinx Terrace (3571 m)  dan Aletsch Glacier yang menjadi tempat  "Snow Fun" bermain yang bisa dikunjungi dalam tour ini. Tapi sebagai manusia tropis yang biasa, tidak bisa bermain ski atau permainan salju lain, maka tournya hanya yg tertera di blog ini.
Ciao from the top of Europe!